Rabu, 11 Mac 2015

Masa Fitnah Di Zaman Ahmad bin Hanbal

burung2

AHMAD bin Hanbal (781 - 855 M, 164 - 241 AH) adalah seorang ahli hadis dan teologi Islam. Ia lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afghanistan dan utara Iran) di bandar Baghdad, Iraq. Kunyahnya Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi atau Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenali juga sebagai Imam Hambali.

Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur'an sehingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga mahir baca-tulis dengan sempurna sehingga dikenali sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu, ia mula kepekatan belajar ilmu hadis di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini ia pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lain sehingga ia akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahawa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menghafal sampai sejuta hadis.

Imam Syafie mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut: "Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hanbal."

Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata, "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara 'Ahmad Bin Hanbal."

Pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahawa Al-Quran adalah makhluk. Namun dia terus bersembunyi pada masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid'ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma'mun, orang-orang jahmiyyah berjaya menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran rasmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahawa Al-Quran makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahawa Al Qur'an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahawa Al Qur'an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan merasai sebatan dan pukulan serta kurungan penjara.

Kerana beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang berbisik kepada Imam Ahmad bin Hanbal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala seksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, "Bagaimana kalian menyikapi hadis" Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, iaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya, "(HR. Bukhari 12/281), lalu beliau menegaskan," Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja. "

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, "Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hanbal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat."

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan seksaan yang luar biasa, beliau masih berfikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia berkata, "Semenjak terjadinya fitnah, saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, 'Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia. ', maka hatiku bertambah kuat. "

*sumber islampos.com

Artikel Terkait

Masa Fitnah Di Zaman Ahmad bin Hanbal
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Donate and coment. Happy blogging 😊